Senin, 15 Juni 2015

secangkir susu





Secangkir Susu 



Seperti candu dalam madu

Kau tak perlu menunggu!

Menunggu indah parasmu

Menunggu mewah bawaanmu

Menunggu petang hari-harimu

Menunggu seseorang di sampingmu

Menunggu sampai batas anganmu

Jadi tak perlu menunda bahagiamu

Bahagia adalah dirimu

Bahagia adalah hidupmu

Seperti menikmati secangkir susu

Kau



Kau

Di sudut kota itu kita bertemu
Menjadi saksi bisu kau dan aku,
Kini kenangan indah menghampiriku
Kenangan dalam indah parasmu, santun tutur katamu
Bahkan dalam setiap gerak ujung jarimu
Aku menyukaimu
Di sini engkau tampakkan kaki-kakimu
Berlarian dan bernyanyi sesukamu
Gelak tawamu menghempaskanku
Bagai ribuan terompet beradu
Aku menyayangimu
Bahkan saat kau gulirkan butiran air dari mata indahmu
Dan kau selalu diam membisu
Kini kau…
menggurat memori indah di hati dan pikiranku
Ku bawa bayangmu sampai akhir hidupku
Kau lah pengingat langkahku
Meskipun masa telah menyudahi kisahmu
Kau tetap bersamaku di setiap sujudku
Agar kau bahagia bersama-Nya selalu



Sofiavoudra
Untuk DivaRizkiPutri, semoga selalu diberi tempat terindah bersamaNya. Amin
Love you always_

Selasa, 31 Maret 2015

Goresan Tinta



Goresan Tinta

Hiduplah saat ini juga; mulai kerjakan atau mimpikan apa yang kamu bisa. Keberanian mengandung kegeniusan, kekuatan dan keajaiban di dalamnya. Seperti itulah ungkapan yang saya ingat  dari Johann Wolfang von Goethe dalam buku “Never Eat Alone” yang ditulis Keith Ferrazzi dan Tahl Raz. Sederhana tetapi mengena  bagi saya, bisa juga bagi anda. Tanpa mimpi kita tidak pernah hidup, tanpa berusaha kita hanya hidup dalam mimpi saja. Jadi just do it, nikmati dan lakukan apa yang kita bisa dan berusaha terbaik untuk yang belum kita bisa.
Kita bisa mempunyai begitu banyak impian, harapan akan masa depan gemilang, tetapi mimpi itu akan sekonyong-konyong menjadi bayang-bayang semata jika tidak ada Titik temu antara keduanya. Lingkaran antara manusia, Alloh  dan lingkungan disekitarnya akan menjadi salah satu kekuatan kita. Hal yang sangat sederhana menjadi bagian terlupakan begitu saja, tetapi kita seringkali melibatkan begitu banyak alasan dan hal-hal rumit dalam hal yang sederha.
Mimpi itulah yang menggerakan manusia. Mimpi ini mampu menggerakkan saraf-saraf dan alam bawah sadar kita untuk berfikir lebih genius dari apa kita sadari selama ini. Bertindak lebih mengesankan di banding dengan yang lain. Sehingga itu semua menjadi kekuatan. Kekuatan manusia sangat istimewa,  ini sebagai salah satu anugerah Alloh pada makhluknya. Tetapi seringkali kita tidak menyadarinya, tenggelam dalam ketakutan tak berarti. Ini seperti racun dalam pikiran sehingga melemahkan tubuh kita. Bahkan sebenarnya kelemahan/kekurangan dapat menjadi keistimewaan, bagi kita yang mempunyai pikiran positif jadi mengapa harus memeilih untuk melemahkan diri?!
Kita telah melewati begitu banyak waktu, detik, menit, jam sampai berhari-hari dan berminggu-minggu hingga tahun yang tak pernah berujung sampai tarikan nafas terakhir kita. Harapan dan impian apa yang kau lihat itu tergantung dari bagaimana kita melihat dan menggunakan waktu itu. Waktu seperti gelombang yang akan menelanmu secara perlahan setiap saat, dan lautan adalah kehidupan yang kita jalani. mungkin saja gelombang itu datang dan berlalu begitu saja dengan atau tanpa membawamu serta dalam deburan gelombang. Dan pada akhirnya jika memilih untuk menghindar maka akan ada kemungkinan, kau ikut tenggelam dalam gelombang dan kau akan tetap tenggelam karna kau telah mati sebelum gelombang itu datang tanpa perlawanan.
Pilihan kedua menempatkan kemungkinan yang lain, kau akan tetap ikut dalam gelombang lalu tenggelam atau kau akan selamat karena melawan gelombang besar itu dengan satu pengalaman yang luar biasa. Hanya kekuatan, kekuatan yang bisa membuka kemungkinan dan mewujudkan mimpi dengan satu kekuatan baru di gelombang berikutnya, karena kita telah melewati satu tahap yang sulit.
Manusia tak bisa mengelak dari waktu. Sekali waktu itu terlewat, maka tidak akan terulang kembali hal yang sama akan terjadi. Dan Ketika kita menyadarinya hanya ada dua kemungkinan, kita akan bergegas menyambut masa depan atau  bernostalgia dengan hal menyedihkan di masa lalu dan terpuruk karenanya. Kita bisa saja mengenang masa lalu untuk menyadari betapa pentingnya masa depan kita, masa lalu memberi kita kekuatan untuk memperbaiki apa yang telah kita lakukan. Tetapi masa depanlah yang akan kita hadapi. jadi langkah awal adalah menetapkan hati untuk yakin.
Tugas kita selanjutnya adalah berani mengawali dan istiqomah melakukannya (teguran untuk saya sendiri). Dengan segenap hati mari kita sambut masa depan dengan gembira, ikhlas dan sungguh-sungguh melakukannya untuk segera menggoreskan sejarah perjalanan hidup kita sendiri. Sekilas tulisan ini sungguh membosankan dan terkesan menggurui, tetapi dengan niat yang sangat tulus, saya tidak pernah bermaksud untuk itu. dengan minimnya pengetahuan saya mencoba untuk ikut berbagi, meskipun hanya ide yang sederhana, mudah-mudahan bermakna baik untuk semua.

Senin, 30 Maret 2015

"Baju Tak Berkerah"




“Baju Tak Berkerah”
“Tolong katakan padaku, ke mana arah jalan pulang dari sini?
“tergantung ke mana kamu mau pergi,’ kata si kucing.
Aku tidak begitu peduli ke mana,” jawab Alice.
“Kalau begitu ke mana pun kamu pergi bukan masalah.” Kata si kucing.
-Alice’s Adventures in Wonderland oleh Lewis Carroll. (Dalam buku ‘never eat alone’: Keith Ferazzi)

Kutipan percakapan Alice dan kucing membuat saya pribadi menjadi sedikit tergelitik, singkat, sederhana namun mengena. Bagaimana dengan anda? Anda bebas mempersepsikannya. Andai saja yang bertanya adalah pengemudi angkutan umum, tentu sudah sewajarnya, karena mereka memberikan jasa angkutannya untuk membawa ke tempat tujuan anda akan pergi, dan secepat kilat saya memastikan anda segera menjawab tempat tujuan itu kecuali jika anda benar-benar sedang galau. Namun bagaimanakah jika yang bertanya adalah diri anda sendiri??! Ada beragam tujuan dan keinginan dalam hidup kita, namun saya sendiri tidak terlalu pandai untuk merangkainya secara detail apa-apa saja yang menjadi tujuan terdekat dan jangka panjang saya. Meskipun pada intinya adalah kehidupan ini seharusnya membawa hikmah untuk sesame sebagai bekal kita di kehidupan yang sebenarnya di akhirat, namun fokus pembahasan tulisan ini adalah bagaimana cara pandang dan langkah nyata yang ingin saya bagikan di sini, tanpa bermaksud mengurui saudara2ku semua.
Awalnya saya cukup stagnan dengan apa-apa yang menjadi tujuan- umum saya, bahkan mungkin dikatakan hambar dan biasa saja, sampai suatu ketika ada seorang teman menanyakan pada saya tujuan setelah lulus kuliah. Saya pun dengan tanpa ragu menjawab bahwa saya akan pergi ke beberapa tempat dan intansi untuk melamar pekerjaan sebagai karyawan/pegawai pemerintahan. Saya sudah cukup yakin dengan bekal indeks prestasi yang tidak terlalu buruk dan pengalaman organisasi saat di bangku kuliah. Dengan spontan temanku Kirana bertanya lagi, apakah aku benar yakin. Setelah panjang lebar kami sharing dan bercerita, ternyata dia pun memutuskan untuk ikut berpetualang dengan saya ke Ibu Kota dan kota-kota lainnya. Beberapa kali berpetualang, berkali-kali pula banyak penolakan. Meskipun pada akhirnya pilihan terakhirnya melanjutkan kuliah di strata berikutnya karena ternyata ia lebih memenuhi pangilan hati untuk menjadi seorang pengajar. Dan untuk kedua kalinya Kirana mengingatkan saya untuk bertanya kembali pada relung hati yang paling mendalaammmmm sekali, apa tujuan hidupmu sesungguhnya, apa yang ingin kau abdikan? Tujuan akhir dan puncakmu menentukan langkah-langkahmu selanjutnya kawan. (seolah kondisi saya yang saat itu sudah bekerja masih mengalami stagnansi yang berarti= pekerjaan tidak  linear dengan bidang ilmu yang saya pelajari saat kuliah). Saya melupakan sedikit tujuan-tujuan akhir tadi. Seperti ada perasaan terperangkap dalam zona stagnan.meskipun begitu bukan berarti mengurangi rasa syukur saya kepada Allah, justru ini menjadi cambuk awal terbukanya pemikiran-pemikiran baru.
Baru-baru ini saya membaca buku Abuya Monif “Rasulullah’s Business School”. Ada pandangan menarik mengenai konsep kebahagiaan saat ini menurut beliau. Bahwa umumnya orang menginginkan uang/materi banyak agar dapat membeli banyak dan memenuhi keinginnanya, dan untuk mendapatkan uang tentu dengan bekerja, dengan demikian tujuan bekerja adalah meraih uang sebagai alat untuk meraih kebahagiaan dan kesenangan. Lalu kemudian jika pekerjaan yang dilakukan dalam rangka meraih kebahagiaan itu justru akan menimbulkan penderitaan/ketidakbahagiaan hal inilah yang merupakan kontradiksi dan antithesis dari hakikat tujuan pekerjaan dan kebahagiaan itu sendiri. Maka saya mengaimini  pandangan tersebut (asli bukan curhat tetapi lebih tepatnya=curcol :p) bahwa sudah sewajarnya bekerja sepatutnya memenuhi unsur keseimbangan menikmati pekerjaannya sehingga timbul rasa bahagia dan pada akhirnya energy positif akan terus terpacu untuk selalu fokus dan terarah  . Jadi bonus semua itu tentu adalah berkah dari Allah berupa rezeki yang kita dapat dan dapat kita bagi pula pada sesama.
Sukses adalah seni manusia mengerahkan semua kemampuan yang telah dianugerahkan oleh Allah swt, sebagai pengejawantahan akan rasa syukur kita untuk kemaslahatan bersama (menurut saya yang sedang belajar meraih sukses). Begitu juga anda bebas mengartikannya. Ada banyak hal yang perlu kita pelajari dan tauladani dari Rasulullah saw dan sahabat-sahabatnya, kemudian dari orang tua kita, guru-guru kita dan semua orang di sekitar kita. Beberapa buku yang saya baca akan saya bagikan di tulisan-tulisan saya, namun sebaiknya mari kita luangkan sejenak waktu untuk memikirkan kembali apa tujuan kita sebenarnya dan sejauh mana kita memikirkannnya secara detail untuk selajutnya kita aplikasikan dalm kehidupan (sebuah teguran untuk diri saya sendiri)!. Demikian, semoga bermanfaat.

 The last but not least, "Bahwa pekerjaan tak sekedar baju berkerah" (silahkan artikan sendiri) :D                                                        
Bersambung……                                                                                                                                                                                    
Jaksel, 30 Maret’15