“Baju Tak Berkerah”
“Tolong katakan padaku, ke mana
arah jalan pulang dari sini?
“tergantung ke mana kamu mau
pergi,’ kata si kucing.
Aku tidak begitu peduli ke mana,”
jawab Alice.
“Kalau begitu ke mana pun kamu
pergi bukan masalah.” Kata si kucing.
-Alice’s
Adventures in Wonderland oleh Lewis Carroll. (Dalam buku ‘never eat alone’:
Keith Ferazzi)
Kutipan
percakapan Alice dan kucing membuat saya pribadi menjadi sedikit tergelitik,
singkat, sederhana namun mengena. Bagaimana dengan anda? Anda bebas mempersepsikannya.
Andai saja yang bertanya adalah pengemudi angkutan umum, tentu sudah
sewajarnya, karena mereka memberikan jasa angkutannya untuk membawa ke tempat
tujuan anda akan pergi, dan secepat kilat saya memastikan anda segera menjawab
tempat tujuan itu kecuali jika anda benar-benar sedang galau. Namun
bagaimanakah jika yang bertanya adalah diri anda sendiri??! Ada beragam tujuan
dan keinginan dalam hidup kita, namun saya sendiri tidak terlalu pandai untuk
merangkainya secara detail apa-apa saja yang menjadi tujuan terdekat dan jangka
panjang saya. Meskipun pada intinya adalah kehidupan ini seharusnya membawa
hikmah untuk sesame sebagai bekal kita di kehidupan yang sebenarnya di akhirat,
namun fokus pembahasan tulisan ini adalah bagaimana cara pandang dan langkah
nyata yang ingin saya bagikan di sini, tanpa bermaksud mengurui saudara2ku
semua.
Awalnya
saya cukup stagnan dengan apa-apa yang menjadi tujuan- umum saya, bahkan
mungkin dikatakan hambar dan biasa saja, sampai suatu ketika ada seorang teman
menanyakan pada saya tujuan setelah lulus kuliah. Saya pun dengan tanpa ragu
menjawab bahwa saya akan pergi ke beberapa tempat dan intansi untuk melamar
pekerjaan sebagai karyawan/pegawai pemerintahan. Saya sudah cukup yakin dengan
bekal indeks prestasi yang tidak terlalu buruk dan pengalaman organisasi saat
di bangku kuliah. Dengan spontan temanku Kirana bertanya lagi, apakah aku benar
yakin. Setelah panjang lebar kami sharing dan bercerita, ternyata dia pun
memutuskan untuk ikut berpetualang dengan saya ke Ibu Kota dan kota-kota
lainnya. Beberapa kali berpetualang, berkali-kali pula banyak penolakan.
Meskipun pada akhirnya pilihan terakhirnya melanjutkan kuliah di strata
berikutnya karena ternyata ia lebih memenuhi pangilan hati untuk menjadi
seorang pengajar. Dan untuk kedua kalinya Kirana mengingatkan saya untuk
bertanya kembali pada relung hati yang paling mendalaammmmm sekali, apa tujuan
hidupmu sesungguhnya, apa yang ingin kau abdikan? Tujuan akhir dan puncakmu
menentukan langkah-langkahmu selanjutnya kawan. (seolah kondisi saya yang saat
itu sudah bekerja masih mengalami stagnansi yang berarti= pekerjaan tidak linear dengan bidang ilmu yang saya pelajari
saat kuliah). Saya melupakan sedikit tujuan-tujuan akhir tadi. Seperti ada perasaan
terperangkap dalam zona stagnan.meskipun begitu bukan berarti mengurangi rasa
syukur saya kepada Allah, justru ini menjadi cambuk awal terbukanya
pemikiran-pemikiran baru.
Baru-baru
ini saya membaca buku Abuya Monif “Rasulullah’s
Business School”. Ada pandangan menarik mengenai konsep kebahagiaan saat
ini menurut beliau. Bahwa umumnya orang menginginkan uang/materi banyak agar
dapat membeli banyak dan memenuhi keinginnanya, dan untuk mendapatkan uang
tentu dengan bekerja, dengan demikian tujuan bekerja adalah meraih uang sebagai
alat untuk meraih kebahagiaan dan kesenangan. Lalu kemudian jika pekerjaan yang
dilakukan dalam rangka meraih kebahagiaan itu justru akan menimbulkan
penderitaan/ketidakbahagiaan hal inilah yang merupakan kontradiksi dan antithesis dari hakikat tujuan pekerjaan
dan kebahagiaan itu sendiri. Maka saya mengaimini pandangan tersebut (asli bukan curhat tetapi
lebih tepatnya=curcol :p) bahwa sudah sewajarnya bekerja sepatutnya memenuhi
unsur keseimbangan menikmati pekerjaannya sehingga timbul rasa bahagia dan pada
akhirnya energy positif akan terus terpacu untuk selalu fokus dan terarah . Jadi bonus semua itu tentu adalah berkah
dari Allah berupa rezeki yang kita dapat dan dapat kita bagi pula pada sesama.
Sukses
adalah seni manusia mengerahkan semua kemampuan yang telah dianugerahkan oleh
Allah swt, sebagai pengejawantahan akan rasa syukur kita untuk kemaslahatan bersama
(menurut saya yang sedang belajar meraih sukses). Begitu juga anda bebas mengartikannya.
Ada banyak hal yang perlu kita pelajari dan tauladani dari Rasulullah saw dan
sahabat-sahabatnya, kemudian dari orang tua kita, guru-guru kita dan semua
orang di sekitar kita. Beberapa buku yang saya baca akan saya bagikan di
tulisan-tulisan saya, namun sebaiknya mari kita luangkan sejenak waktu untuk
memikirkan kembali apa tujuan kita sebenarnya dan sejauh mana kita
memikirkannnya secara detail untuk selajutnya kita aplikasikan dalm kehidupan
(sebuah teguran untuk diri saya sendiri)!. Demikian, semoga bermanfaat.
The last but not least, "Bahwa pekerjaan tak sekedar baju berkerah" (silahkan artikan sendiri) :D
Bersambung……
Jaksel, 30 Maret’15