Senin, 30 Maret 2015

"Baju Tak Berkerah"




“Baju Tak Berkerah”
“Tolong katakan padaku, ke mana arah jalan pulang dari sini?
“tergantung ke mana kamu mau pergi,’ kata si kucing.
Aku tidak begitu peduli ke mana,” jawab Alice.
“Kalau begitu ke mana pun kamu pergi bukan masalah.” Kata si kucing.
-Alice’s Adventures in Wonderland oleh Lewis Carroll. (Dalam buku ‘never eat alone’: Keith Ferazzi)

Kutipan percakapan Alice dan kucing membuat saya pribadi menjadi sedikit tergelitik, singkat, sederhana namun mengena. Bagaimana dengan anda? Anda bebas mempersepsikannya. Andai saja yang bertanya adalah pengemudi angkutan umum, tentu sudah sewajarnya, karena mereka memberikan jasa angkutannya untuk membawa ke tempat tujuan anda akan pergi, dan secepat kilat saya memastikan anda segera menjawab tempat tujuan itu kecuali jika anda benar-benar sedang galau. Namun bagaimanakah jika yang bertanya adalah diri anda sendiri??! Ada beragam tujuan dan keinginan dalam hidup kita, namun saya sendiri tidak terlalu pandai untuk merangkainya secara detail apa-apa saja yang menjadi tujuan terdekat dan jangka panjang saya. Meskipun pada intinya adalah kehidupan ini seharusnya membawa hikmah untuk sesame sebagai bekal kita di kehidupan yang sebenarnya di akhirat, namun fokus pembahasan tulisan ini adalah bagaimana cara pandang dan langkah nyata yang ingin saya bagikan di sini, tanpa bermaksud mengurui saudara2ku semua.
Awalnya saya cukup stagnan dengan apa-apa yang menjadi tujuan- umum saya, bahkan mungkin dikatakan hambar dan biasa saja, sampai suatu ketika ada seorang teman menanyakan pada saya tujuan setelah lulus kuliah. Saya pun dengan tanpa ragu menjawab bahwa saya akan pergi ke beberapa tempat dan intansi untuk melamar pekerjaan sebagai karyawan/pegawai pemerintahan. Saya sudah cukup yakin dengan bekal indeks prestasi yang tidak terlalu buruk dan pengalaman organisasi saat di bangku kuliah. Dengan spontan temanku Kirana bertanya lagi, apakah aku benar yakin. Setelah panjang lebar kami sharing dan bercerita, ternyata dia pun memutuskan untuk ikut berpetualang dengan saya ke Ibu Kota dan kota-kota lainnya. Beberapa kali berpetualang, berkali-kali pula banyak penolakan. Meskipun pada akhirnya pilihan terakhirnya melanjutkan kuliah di strata berikutnya karena ternyata ia lebih memenuhi pangilan hati untuk menjadi seorang pengajar. Dan untuk kedua kalinya Kirana mengingatkan saya untuk bertanya kembali pada relung hati yang paling mendalaammmmm sekali, apa tujuan hidupmu sesungguhnya, apa yang ingin kau abdikan? Tujuan akhir dan puncakmu menentukan langkah-langkahmu selanjutnya kawan. (seolah kondisi saya yang saat itu sudah bekerja masih mengalami stagnansi yang berarti= pekerjaan tidak  linear dengan bidang ilmu yang saya pelajari saat kuliah). Saya melupakan sedikit tujuan-tujuan akhir tadi. Seperti ada perasaan terperangkap dalam zona stagnan.meskipun begitu bukan berarti mengurangi rasa syukur saya kepada Allah, justru ini menjadi cambuk awal terbukanya pemikiran-pemikiran baru.
Baru-baru ini saya membaca buku Abuya Monif “Rasulullah’s Business School”. Ada pandangan menarik mengenai konsep kebahagiaan saat ini menurut beliau. Bahwa umumnya orang menginginkan uang/materi banyak agar dapat membeli banyak dan memenuhi keinginnanya, dan untuk mendapatkan uang tentu dengan bekerja, dengan demikian tujuan bekerja adalah meraih uang sebagai alat untuk meraih kebahagiaan dan kesenangan. Lalu kemudian jika pekerjaan yang dilakukan dalam rangka meraih kebahagiaan itu justru akan menimbulkan penderitaan/ketidakbahagiaan hal inilah yang merupakan kontradiksi dan antithesis dari hakikat tujuan pekerjaan dan kebahagiaan itu sendiri. Maka saya mengaimini  pandangan tersebut (asli bukan curhat tetapi lebih tepatnya=curcol :p) bahwa sudah sewajarnya bekerja sepatutnya memenuhi unsur keseimbangan menikmati pekerjaannya sehingga timbul rasa bahagia dan pada akhirnya energy positif akan terus terpacu untuk selalu fokus dan terarah  . Jadi bonus semua itu tentu adalah berkah dari Allah berupa rezeki yang kita dapat dan dapat kita bagi pula pada sesama.
Sukses adalah seni manusia mengerahkan semua kemampuan yang telah dianugerahkan oleh Allah swt, sebagai pengejawantahan akan rasa syukur kita untuk kemaslahatan bersama (menurut saya yang sedang belajar meraih sukses). Begitu juga anda bebas mengartikannya. Ada banyak hal yang perlu kita pelajari dan tauladani dari Rasulullah saw dan sahabat-sahabatnya, kemudian dari orang tua kita, guru-guru kita dan semua orang di sekitar kita. Beberapa buku yang saya baca akan saya bagikan di tulisan-tulisan saya, namun sebaiknya mari kita luangkan sejenak waktu untuk memikirkan kembali apa tujuan kita sebenarnya dan sejauh mana kita memikirkannnya secara detail untuk selajutnya kita aplikasikan dalm kehidupan (sebuah teguran untuk diri saya sendiri)!. Demikian, semoga bermanfaat.

 The last but not least, "Bahwa pekerjaan tak sekedar baju berkerah" (silahkan artikan sendiri) :D                                                        
Bersambung……                                                                                                                                                                                    
Jaksel, 30 Maret’15

2 komentar: